Selamat Datang di Website Klirens Etik

Badan Riset dan Inovasi Nasional

Tentang Klirens Etik

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pasal 39 mengamanatkan bahwa semua kegiatan riset harus dilakukan sesuai dengan kode etik bidang ilmu. Untuk menegakkan kode etik tersebut, dibentuk Komisi Etik yang bertugas menelaah dan menetapkan kelayakan etik.

Klirens Etik Riset adalah suatu instrumen untuk mengukur keberterimaan secara etik suatu rangkaian proses riset. Persetujuan klirens etik riset dari Komisi Etik harus diperoleh sebelum riset dimulai. Klirens etik riset merupakan acuan bagi periset dalam menjunjung tinggi nilai integritas, kejujuran, dan keadilan dalam melakukan riset. Pemahaman atas klirens etik riset sangat diperlukan agar tidak menemui masalah dalam menjalankan riset dan mempublikasikan hasil risetnya.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dalam menyelenggarakan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan, serta invensi dan inovasi, penyelenggaraan ketenaganukliran, dan penyelenggaraan keantariksaan yang terintegrasi, memberikan fasilitasi untuk menilai keberterimaan secara etik dari suatu proposal riset yang akan dilakukan oleh periset di dalam maupun di luar BRIN termasuk pihak asing yaitu kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi asing dan/atau orang asing yang akan melakukan riset di Indonesia.

Pihak Asing yang akan melakukan kegiatan Riset di Indonesia, wajib memperoleh izin Riset. Untuk memperoleh Izin Riset, Pihak Asing mengajukan permohonan Klirens Etik Riset. Permohonan Klirens Etik Riset ini dilakukan melalui sistem informasi Klirens Etik Riset.

Komisi Etik memberikan Klirens Etik

Komisi Etik bertugas memeriksa dan mengesahkan keberterimaan secara etik suatu rangkaian proses riset sebelum dilaksanakan

Video Petunjuk Website Klirens Etik

Berikut adalah video tutorial dan Petunjuk penggunaan cara-cara mengajukan Klirens Etik BRIN

Petunjuk

The following is a video tutorial and instructions on how to apply for BRIN Ethical Clearance

Guidelines

Komisi Etik

Sosial Humaniora

Dalam buku “International Ethical Guidelines for Biomedical Research Involving Human Subjects” (CIOMS, 2002) dikatakan bahwa semua riset yang melibatkan manusia tidak boleh melanggar standar etik yang berlaku universal, tetapi juga harus memperhatikan berbagai aspek sosial budaya masyarakat yang diteliti. Oleh karena itu, semua riset yang melibatkan manusia harus melalui proses klirens etik riset.

Tujuan utama mendapatkan persetujuan klirens etik pada bidang ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan adalah untuk melindungi subyek riset/responden dari bahaya secara fisik (ancaman), psikis (tertekan, penyesalan), sosial (stigma, diasingkan dari masyarakat) dan konsekuensi hukum (dituntut) sebagai akibat turut berpartisipasi dalam suatu riset. Oleh karena itu, semua riset yang melibatkan manusia harus memperhatikan tiga prinsip dasar kode etik (CIOMS, 2002) yaitu:

  1. Menghormati individu (Respect for persons), setidaknya ada 2 (dua) etika dasar yang perlu diperhatikan:
    1. Menghormati otonomi (Respect for autonomy): menghargai kebebasan seseorang terhadap pilihan sendiri.
    2. Melindungi subyek riset (Protection of persons): melindungi individu/subyek riset yang memiliki keterbatasan atau kerentanan dari eksploitasi dan bahaya.
  2. Kemanfaatan (Beneficience): kewajiban secara etik untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan bahaya. Prinsip ini menekankan bahwa semua riset harus bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu rancangan riset harus jelas dan peneliti yang bertanggung jawab harus mempunyai kompetensi yang sesuai dan dapat melindungi subyek riset dari resiko yang tidak diinginkan.
  3. Berkeadilan (Distributive justice): Keseimbangan antara beban dan manfaat ketika berpartisipasi dalam riset. Prinsip ini menekankan bahwa setiap individu yang berpartisipasi dalam riset harus diperlakukan sesuai dengan latar belakang dan kondisi masing-masing. Perbedaan perlakuan antara satu individu/kelompok dengan lain dapat dibenarkan bila dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan dapat diterima oleh masyarakat.

Periset dapat mengajukan klirens etik riset sosial humaniora apabila risetnya termasuk dalam kriteria berikut:

  1. Semua riset yang melibatkan manusia harus melalui proses klirens etik. Riset yang dikecualikan dari proses klirens etik adalah riset yang menggunakan data sekunder, review literatur atau data yang sudah dipublikasi seperti:
    1. Surat kabar, website, majalah, laporan publik, pernyataan publik, film, program televisi, pertunjukan di depan publik, pameran di publik, pidato publik.
    2. Karya yang telah dipublikasi, sistematik review, review literatur, dan lain-lain.
    3. Materi-materi lama (seperti manuskrip, arsip) yang disimpan dan boleh digunakan untuk umum.
  2. Riset yang menggunakan review dari materi-materi yang bersifat konfidensial (catatan kesehatan rumah sakit/klinik kesehatan) harus melalui proses klirens etik (meskipun masih memerlukan ijin dari institusi yang mengeluarkan). Demikian juga riset yang menggunakan informasi dari media tertutup/tidak bersifat umum, seperti review statistik dari suatu lembaga (karyawan, klien, pasien, pengguna, penyedia jasa, catatan pelayanan, catatan keuangan, catatan perusahaan) harus melalui klirens etik.
  3. Studi yang menggunakan metode tambahan, yang berhubungan langsung dengan manusia seperti wawancara, Focus Group Discussion (FGD) dan lain-lain, tetap memerlukan proses klirens etik, meskipun metode utamanya menggunakan review materi yang ada di publik.

 

Untuk riset yang melibatkan manusia, status riset yang memerlukan atau tidak memerlukan proses klirens etik  diputuskan oleh Komisi Etik Riset Sosial Humaniora, bukan oleh peneliti atau lembaga lainnya.

Komisi Etik akan mengelompokkan usulan riset yang masuk ke dalam 3 kategori berikut:

  1. Hijau : Tidak berisiko (tidak ada keterlibatan manusia/menggunakan data sekunder)
  2. Kuning : Berisiko rendah (subjek dan isu riset tidak “sensitif”)
  3. Merah : Berisiko tinggi (subjek dan/atau isu riset sangat “sensitif”)

Riset yang termasuk dalam klasifikasi Merah adalah riset yang melibatkan kelompok rentan, yaitu anak-anak, lansia, wanita hamil, orang lemah mental dan intelektual, disabilitas, kelompok LGBT, orang yang pernah mengalami trauma, pengidap HIV, orang dengan ketergantungan obat, orang yang mengalami kesulitan berkomunikasi, narapidana, residivis, dan teroris.

Hewan Coba

Semua riset yang menggunakan hewan harus melalui proses Klirens Etik Riset. Klirens Etik Riset ini bertujuan untuk menjamin implementasi konsep kesejahteraan hewan khususnya pada ranah riset terutama riset menggunakan hewan.

Penerapan kesejahteraan hewan pada pemanfaatan hewan baik untuk kepentingan riset, pengujian dan pendidikan selain akan memberikan hasil yang lebih baik karena rendahnya tingkat intervensi stres juga komunitas ilmiah dapat menegaskan kesadaran moral akan perikemanusiaan terhadap hewan serta tetap dapat menjunjung kewajibannya untuk umat manusia demi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Adapun penerapan kesejahteraan hewan mengikuti prinsip 3R, yaitu :

  1. Replacement atau penggantian mengacu kepada metode mensubstitusi hewan dengan program komputer, kultur sel atau Hewan Coba dengan tingkatan sensitifitas (sentient) lebih rendah;
  2. Reduction atau pengurangan melibatkan strategi menggunakan jumlah hewan minimal tanpa mengurangi validitas data atau berupa pengurangan perlakuan yang menimbulkan sakit dan stres; dan
  3. Refinement atau perbaikan berkenaan dengan modifikasi sistem pemeliharaan atau prosedur percobaan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan atau meminimalisasi sakit dan stres.

Kesejahteraan hewan menurut Asosiasi Dokter Hewan Amerika (American Veterinary Medical Association – AVMA) merupakan kehidupan hewan yang sejahtera diindikasikan dengan parameter ilmiah sesuai konsep lima kebebasan kesejahteraan hewan (Five Freedom Animal Welfare). Kelima konsep tersebut antara lain:

  1. bebas dari rasa haus, lapar dan malnutrisi;
  2. bebas dari ketidaknyamanan;
  3. bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit;
  4. bebas untuk mengekspresikan perilaku normal dengan menyediakan tempat yang memadai, aktivitas yang sesuai dan koloni; dan
  5. bebas dari rasa takut dan stress dengan menjamin kondisi yang menghindarkan dari penderitaan mental.

Konsep kesejahteraan hewan ini harus diterapkan pada hewan terutama hewan yang telah hidup dengan campur tangan manusia seperti hewan peliharaan, hewan ternak, satwa liar dan hewan laboratorium.

Sebelum melaksanakan riset yang menggunakan hewan, periset dapat mengajukan usulan Klirens Etik Riset kepada Komisi Etik Riset Hewan Coba BRIN. Usulan yang masuk akan diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu:

  1. Hijau : tidak ada resiko (tidak ada intervensi)
  2. Kuning : minimal atau resiko rendah (ada intervensi namun bersifat non-invasive)
  3. Merah : resiko tinggi (ada intervensi yang bersifat invasive dan menggunakan metode euthanasia)

Komisi Etik akan memutuskan pemberian persetujuan Klirens Etik Riset setelah melakukan persidangan untuk membahas kelayakan etika dari usulan yang diajukan oleh periset

Tenaga Nuklir

Belum Tersedia

Kimia

Belum Tersedia

Kesehatan

Belum Tersedia

TARIF PERIZINAN RISET OLEH PIHAK ASING
(TARIFFS OF FOREIGN RESEARCH PERMIT)

A. DASAR HUKUM (LEGAL BASIS)

  1. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 210/PMK.02/2021 Tentang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Kebutuhan Mendesak Yang Berlaku Pada Badan Riset Dan Inovasi Nasional
    Regulation of the Minister of Finance of the Republic of Indonesia No. 210/PMK.02/2021 concerning Types and Tariffs of Non-Tax State Revenues for Urgent Needs in the National Research and Innovation Agency.
  2. Surat Menteri Keuangan Nomor S-124/MK.2/2022 tentang Persetujuan atas Substansi Pengaturan Besaran, Persyaratan, dan Tata Cara Pengenaan Tarif Sampai Dengan Rp0,00 (Nol Rupiah) atau 0% (Nol Persen) atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Badan Riset dan Inovasi Nasional
    Letter of the Minister of Finance No. S-124/MK.2/2022 concerning Approval of the Substances for Regulation of Amounts, Requirements, and Procedures for Tariffs of Up to Rp. 0,00 (Zero Rupiah) or 0% (Zero Percent) on Non-Tax State Revenues in the National Research and Innovation Agency.

B. TARIF (TARIFFS)
C. PERSYARATAN BEBAS TARIF (REQUIREMENTS FOR OBTAINING FREE TARIFFS)

Bebas Tarif dapat diberikan oleh BRIN dengan kriteria dan persyaratan kelengkapan dokumen sebagai berikut:
BRIN provides free tariffs with the following criteria and requirements:

  1. Melampirkan rencana kegiatan penelitian dan pengembangan;
    Provide research proposal
  2. Melampirkan surat keterangan rekomendasi atau persetujuan dari lembaga penjamin;
    Provide a letter of recommendation/ letter of approval from guarantee institute
  3. Melampirkan dokumen kerjasama dengan mitra kerja dari BRIN; dan
    Provide document of collaboration with BRIN working unit and
  4. Menyampaikan surat permohonan kepada Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum pelaksanaan.
    Provide a letter to the Deputy Chairman of BRIN for Research and Innovation Facilitation, no later than 7 working days prior to the research implementation.

Semua dokumen diunggah pada website klirensetik.brin.go.id. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi sekretariat melalui email: research.permit@brin.go.id; WA: +62 856-9482-1823 (Bambang Herlambang).
All documents are uploaded through klirensetik.brin.go.id. For further information please contact secretariat through email: research.permit@brin.go.id; WA: +62 856-9482-1823 (Mr. Bambang Herlambang).

Frequently Asked Questions

Pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh Penannya

Untuk mengecek apakah riset Saudara memerlukan klirens etik atau tidak, Saudara dapat melakukan penilaian mandiri dengan cara login ke website https://klirensetik.brin.go.id dan mengisi semua pertanyaan yang ada. Jawaban Saudara akan menentukan apakah riset Saudara memerlukan klirens etik atau tidak.

Izin riset diperlukan untuk pihak asing yang akan melakukan riset di Indonesia. Pihak asing yang dimaksud adalah kelembagaan iptek asing dan/atau orang asing (WNA). Apabila Saudara atau anggota tim riset Saudara adalah pihak asing, maka wajib mengajukan permohonan izin riset sebelum dapat melakukan riset di Indonesia.

Izin riset diajukan bersamaan dengan pengajuan klirens etik riset. Apabila klirens etik risetnya disetujui, maka izin riset akan dikeluarkan bersamaan dengan surat keputusan klirens etik tersebut selama pihak asing tidak tercantum dalam daftar hitam (black list) pemberian izin riset.

Pengusulan klirens etik riset dapat dilakukan melalui https://klirensetik.brin.go.id/. Pengusul login dengan akun SSO BRIN. Apabila belum memiliki akun SSO BRIN, pengusul dapat mendaftarkan diri untuk mendapatkan akun SSO BRIN melalui web klirens etik tersebut. Setelah login, pengusul dapat mengajukan permohonan klirens etik riset.

Klirens etik riset harus diajukan sebelum riset tersebut dilaksanakan.

Dari pengusulan hingga keluarnya surat keputusan klirens etik riset diperlukan waktu maksimal 20 (dua puluh) hari kerja dengan catatan bahwa berkas yang diunggah sudah lengkap dan tidak ada catatan perbaikan hasil sidang Komisi Etik.

Pengusul dapat mengetahui status usulannya melalui akun masing-masing.

Saudara dapat mengunjungi Sekretariat Komisi Etik BRIN pada alamat yang tertera dalam Kontak atau dapat menghubungi Sekretariat melalui email klirensetik@brin.go.id
 

Kontak Kami